Meneladani Spirit Perjuangan & Akhlak Syaikhuna Aunur Rofiq bin Ghufron Hamdani rahimahullah

*Meneladani Spirit Perjuangan & Akhlak Syaikhuna Aunur Rofiq bin Ghufron Hamdani -rahimahullah-*

Kajian oleh: _Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As-Sidawy_ -hafizhahullah-
Di Masjid Jami’ Al Furqon

*Muqaddimah*
Ustadz Abu Ubaidah diminta oleh pengurus marhalah, pengurus pesantren, dan mudir pesantren, serta berbagai pihak untuk mengisi kajian ini, untuk memenuhi hak muslim, akhirnya beliau menyanggupi. Dalam peribahasa Arab ada ungkapan:
مكره أخوك لا بطل
Saudaramu terpaksa bukan karena berani.

Padahal banyak asatidzah Al-Furqon yang layak untuk dimintai mengisi kajian ini. Ini menunjukkan tawadhu’ nya asatidzah Al-Furqon.

Hal ini mengingatkan beliau diantara akhlak mulia Syaikhuna Al-Walid Aunur Rofiq bin Ghufron Hamdani -rahimahullah- yaitu tawadhu’ beliau yang begitu besar. Beliau pernah diminta untuk memberi tausiyah bahkan khutbah padahal ada beliau.

Sikap seperti ini adalah akhlak para ulama salaf.

Disebutkan tentang sahabat Abdullah bin Umar bahwa beliau hadir dalam majlis ilmu ‘Ubaid bin ‘Umair rahimahumallah dan meneteskan air mata.

Demikian pula tawadhu’ yang diwariskan oleh para asatidzah Al-Furqon; tidak merasa tinggi dengan ilmu, tidak merasa cukup dengan amal, dan tetap merasa butuh nasihat.

*Kematian Pasti Menghampiri*

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

﴿أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ﴾

“Di mana pun kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng-benteng yang kokoh.”
(QS. An-Nisa’: 78)

Kematian tidak mengenal usia, jabatan, kedudukan, atau kondisi. Semua pasti akan menghadapinya.

Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah pernah berkata:

«“Seandainya mengingat kematian hilang dari hatiku walau sesaat, niscaya rusaklah hatiku.”»

Karena orang yang banyak mengingat kematian akan lebih lembut hatinya, lebih zuhud terhadap dunia, dan lebih serius mempersiapkan akhirat.

Ketika putra Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Ibrahim, meninggal dunia, beliau bersabda:

«“Sesungguhnya mata berderai menangis dan hati bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai Rabb kami.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»

Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah berkata:

«“Ketika aku mendengar wafatnya seorang Ahlus Sunnah, seakan-akan sebagian anggota tubuhku hilang.”»

Karena wafatnya ulama dan orang-orang shalih adalah musibah dan luka mendalam bagi umat.

*Tanda-Tanda Husnul Khatimah*

Insyaa Allah, wafatnya beliau menunjukkan tanda-tanda husnul khatimah. Diantaranya:

1. Wafat di Hari Jumat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat kecuali Allah akan melindunginya dari fitnah kubur.”
(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)»

2. Berkeringat di Kening

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

««مَوْتُ الْمُؤْمِنِ بِعَرَقِ الْجَبِينِ»»

“Kematian seorang mukmin disertai dengan keringat di dahinya.”
(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

3. Wafat di Atas Tauhid dan Sunnah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

««مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ»»

“Barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, maka ia masuk surga.”
(HR. Muslim)

Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat perhatian terhadap tauhid dan sunnah.

4. Wafat Setelah Menahan Sakit

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, sakit, kesedihan, gangguan, kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya karenanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»

Beberapa tahun terakhir beliau diuji dengan sakit, namun tetap sabar dan ridha.

5. Dishalati dan Didoakan Banyak Kaum Muslimin

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«“Tidaklah seorang muslim meninggal lalu dishalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali Allah menerima syafaat mereka untuknya.”
(HR. Muslim)»

Betapa banyak kaum muslimin, penuntut ilmu, dan masyarakat yang hadir serta mendoakan beliau. Belum lagi di medsos.

*Jangan Menyimpang Karena Wafatnya Tokoh*

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

﴿إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ﴾

“Sesungguhnya engkau akan mati dan mereka pun akan mati.”
(QS. Az-Zumar: 30)

Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pun wafat.

Allah juga berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ ۝١٤٤
(Nabi) Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali ‘Imran: 144)

Karena itu, jangan sampai wafatnya tokoh membuat seseorang futur, patah semangat, atau bahkan menyimpang dari jalan dakwah dan sunnah.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata:

«“Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.”»

*Nasihat untuk Santri-Santri Ustadz Aunur Rofiq*

1. Bersabar dan Ridha terhadap Takdir Allah

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴾

“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)

Para salaf dahulu saling menghibur ketika tertimpa musibah dengan mengingatkan:

«“Sesungguhnya hidup ini hanyalah hari-hari yang sedikit. Dan tempat tinggal sejati adalah kelak di surga”»

Maka bersabarlah, kuatlah, dan ridhalah terhadap keputusan Allah. Karena keputusan Allah pasti yang terbaik.

2. Mendoakan Guru dengan Tulus

Di antara akhlak santri kepada gurunya adalah terus mendoakannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa diberi sebuah kebaikan, hendaknya ia membalasnya. Jika dia tidak mampu membalasnya maka doakanlah”
(HR. Abu Dawud)

Dan balasan terbaik bagi guru adalah doa yang tulus.

Disebutkan bahwa Imam Abu Hanifah rahimahullah senantiasa mendoakan gurunya, Hammad bin Abi Sulaiman, dalam doa-doanya setiap shalat.

3. Meneladani Spirit Perjuangan dan Akhlak Beliau

Disebutkan dalam sebuah atsar:

««عِنْدَ ذِكْرِ الصَّالِحِينَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ»»

“Ketika orang-orang shalih disebut, maka rahmat Allah turun.”

Berikut beberapa teladan dari beliau yang bisa menjadi ibrah bagi kita untuk menirunya:

1. *Semangat dalam Menuntut Ilmu*

– Beliau dahulu sampai menyalin Kamus Mahmud Yunus dengan tangannya sendiri.

– Pernah makan dari sisa-sisa makanan demi bertahan dalam perjuangan ilmu.

– Pernah berjalan kaki dari Lamongan menuju Srowo untuk kembali ke pondok.

– Beliau membaca kitab di mobil. Bahkan terkadang sambil safar atau dalam perjalanan.

– Dalam dauroh dan majelis ilmu, beliau sering menjadi yang paling depan hadir sebelum yang lain.

Maka ini pelajaran bagi kita untuk semangat dan sabar dalam menuntut ilmu.
Di antara penyakit penuntut ilmu adalah gampang bosan dan sedikit sabar.

Imam Asy Syafi’i berkata:

««آفَاتُ الْمُتَعَلِّمِ: الْمَلَلُ وَقِلَّةُ الصَّبْرِ»»

“Penyakit penuntut ilmu adalah rasa bosan dan kurang sabar.”

Namun beliau menunjukkan kesabaran luar biasa dalam perjalanan ilmu.

2. *Semangat dalam Amal dan Ibadah*

Ilmu sejati adalah ilmu yang melahirkan amal.

Sebagian ulama berkata:

««لَيْسَ الْعِلْمُ مَا حُفِظَ، وَإِنَّمَا الْعِلْمُ مَا نَفَعَ»»

“Ilmu bukanlah sekadar yang dihafal, namun ilmu adalah yang memberi manfaat.”

Dan dikatakan pula:

««أَصْلُ الْعِلْمِ خَشْيَةُ اللَّهِ»»

“Pokok ilmu adalah rasa takut kepada Allah.”

– Beliau (Ustadz Aunur Rofiq) dikenal sering murojaah hafalan Al-Qur’an bahkan di kendaraan, sambil nyetir mobil.

– Beliau menjaga shalat malam meskipun dalam keadaan lelah.

– Beliau juga semangat bersedekah untuk keluarga, santri, tetangga, dan pondok.

Al-Ilbiri rahimahullah dalam Ta’iyyah-nya mengingatkan:

«“Jika manusia sudah memanggilmu ustadz dan dai, jangan merasa aman dari pertanyaan Allah:
‘Engkau telah mengetahui, lalu apa yang telah engkau amalkan?
Inti nya ilmu adalah taqwa bukan gelar yang disandang’”»

*Semangat Dakwah dan Menyebarkan Ilmu*

– Beliau memiliki cita-cita besar untuk menyebarkan ilmu.

– Hari Jumat hingga malam Senin sering digunakan untuk safar dakwah ke berbagai daerah di Kediri, Tulung Agung, Trenggalek, Madura, Magelang.

– Bahkan dalam keadaan sakit pun beliau tetap berusaha berdakwah.

– Beliau sangat disiplin terhadap jadwal dakwah. Sering kali setelah Ashar sudah berangkat menuju lokasi kajian, padahal jadwal kajiannya setelah maghrib.

– Pernah pulang safar dari Kalimantan, tiba pagi hari, lalu langsung masuk mengajar.

Seakan-akan jasad beliau lelah, namun ruh perjuangannya tidak pernah berhenti, seperti kata penyair:
وإذا كانت النفوس كبارا
تعبت في مرادها الأجسام
Jika jiwa seorang besar
Maka badan lelah memahami maksudnya jiwa

3. *Keikhlasan*

Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

««الْعِلْمُ مَا نِلْتَ بَرَكَتَهُ»»

“Ilmu adalah yang engkau peroleh keberkahannya.”

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata tentang para salaf mengapa perkataan mereka begitu manis :

««لِأَنَّهُمْ أَرَادُوا بِهِ وَجْهَ اللَّهِ»»

“Karena mereka menginginkan wajah Allah dengannya.”

Nasihat yang keluar dari hati akan masuk ke hati.

Syeikhuna mungkin tidak pandai retorika, bahasanya sederhana, tapi nasehatnya bagaiman es di saat dahaga, karena buah keikhlasannya insya Allah.

– Beliau tetap mengajar meskipun yang hadir hanya sedikit. Kadang hanya tiga orang di mushalla kecil sekitar.

– Saat fitnah melanda pondok pada tahun-tahun dahulu dan banyak santri keluar, beliau tidak sibuk membantah dan berdebat. Beliau hanya mengatakan:

«“Kita hanya menyampaikan ilmu.”»

Karena beliau memahami:

««كُلُّ شَيْءٍ لَا يُرَادُ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ يَضْمَحِلُّ»»

“Segala sesuatu yang tidak diniatkan karena Allah akan sirna.”

4. *Zuhud terhadap Dunia*

– Beliau pernah menjalani berbagai pekerjaan kasar ketika belajar: berdagang, menjadi kuli, bekerja di tempat selep, dan lainnya.

– Beliau tidak suka dimuliakan berlebihan dengan fasilitas dunia.

– Tidak suka hotel mewah, kasur empuk, atau pendingin ruangan.

– Bahkan beliau pernah berkata:

«“Kalau ada makanan yang tidak dimakan, kasihkan saya saja.”»

– Beliau tidak menjadikan dakwah dan mengajar sebagai sumber utama duniawi. Bahkan beliau hanya mengambil sedikit dari hak beliau.

5. *Tawadhu’*

Diriwayatkan bahwa Aisyah berkata:

««إِنَّكُمْ لَتَغْفُلُونَ عَنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَةِ: التَّوَاضُعِ»»

“Kalian benar-benar lalai dari ibadah terbaik: tawadhu’.”

– Beliau ikut gotong royong bersama yang lain para santri ngecor bangunan bahkan saat diguyur hujan.

– Beliau sering berkata:

«“Saya ini kurang ilmu. Saya masih bodoh. Kalau salah tolong ingatkan.”»

– Beliau juga sering memberikan kesempatan kepada para santri untuk berdakwah dan menyampaikan kultum serta beliau mendengarkannya.

Dikatakan :

««الْعِلْمُ حَرْبٌ لِلْفَتَى الْمُتَعَالِي»»

“Ilmu akan memusuhi orang yang sombong.”

6. *Kesabaran Beliau*

Sebagian ulama berkata:

««الصَّبْرُ كَنْزٌ»»

“Kesabaran adalah harta karun yang hanya diberikan kepada hamba yang dicintaiNya saja”

– Beliau sangat sabar menghadapi ujian dakwah dan penyakit.

– Pernah mendapatkan intimidasi setelah pulang dari Riyadh. Bahkan di Kediri pernah mengalami ancaman serius.

– Akhirnya beliau diminta orang tuanya mendirikan pondok di Srowo.

– Tiga tahun terakhir beliau diuji dengan sakit yang membuat beliau harus mengurangi aktivitas dakwah dan mengajar, padahal itulah ruh kehidupan beliau.

7. *Memanfaatkan Waktu*

– Beliau sangat menjaga waktunya. Saat di mobil bahkan sambil nyetir beliau baca buku dan murajaah Al Quran.

– Tidak suka bermalas-malasan.

– Bahkan ketika libur terkadang tetap melakukan hal-hal bermanfaat seperti memperbaiki kendaraan.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

««مَنْ لَمْ يَكُنْ وَقْتُهُ لِلَّهِ وَبِاللَّهِ فَالْمَوْتُ خَيْرٌ لَهُ»»

“Barangsiapa waktunya tidak digunakan untuk Allah dan bersama Allah, maka kematian lebih baik baginya.”

7. *Perhatian Besar terhadap Tauhid*

– Beliau sangat menekankan tauhid.

– Kitab-kitab beliau yang tampak paling sering dipakai hingga rusak sampulnya adalah kitab-kitab tauhid seperti: Fathul Majid, Aqidah Thahawiyyah, Ushul Sunnah, Syarhus Sunnah, dan kitab-kitab aqidah lainnya.

– Di antara kisah yang disebutkan tentang kuatnya tauhid beliau:
Ada seseorang yang mencari “kyai sakti” untuk menguji kesaktiannya. Lalu ditunjukkanlah ke Ustadz Aunur Rofiq di Srowo yang sedang memperbaiki mobil. Ketika bertemu beliau, justru hilang rasa bangga terhadap kesaktiannya, lalu akhirnya bertaubat, memotong rambutnya, dan menjadi santri.

– Disebutkan pula bahwa ketika beliau hendak datang ke suatu tempat untuk meruqyah, jin hanya mendengar suara beliau lantas jin yang menjerit ketakutan.

Semua ini menunjukkan kekuatan tauhid dan istiqamah beliau di atas sunnah.

8. *Umur Kedua yang Ditinggalkan*

Orang Jawa mengatakan:

«“Urip iku urup.”
“Hidup itu harus memberi manfaat dan cahaya.”»

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

««خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»»

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Beliau telah meninggalkan “umur kedua”:

– anak-anak yang shalih,
– santri-santri,
– kitab dan karya tulis,
– masjid-masjid,
– dakwah,
– serta ilmu yang terus diamalkan manusia.

Karena itu, boleh bersedih. Menangislah sewajarnya.

Namun jangan terlalu lama larut dalam kesedihan.

Lanjutkan perjuangan ilmu dan dakwah beliau.

رحمه الله رحمة واسعة
وغفر له، ورفع درجته في المهديين، وجمعنا به في الفردوس الأعلى.

✍️ Di transkip oleh Rifki Febriansyah

[Telah dikoreksi, dimurojaah, dan disempurnakan oleh *Ustadz Abu Ubaidah* _-hafizhahullah-_]

Baca Juga Artikel Terbaru

Leave a Comment